Polling

Apakah website kami sangat penting dalam informasi perkembangan desa ?


Hasil

Statistik Pengunjung


Pengunjung Hari ini : 408
Pengunjung Bulan ini : 748
Total Pengunjung : 12217

Dunia Merindukan Islam ala NTB


ALUMNI KAIRO: Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi (tengah) bersama Wakil Ketua WOAG Prof Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi (lima dari kiri), Ketua Alumni Kairo Indonesia Prof H Qurais Shihab (empat dari kanan) foto bersama para alumni Al-Azhar di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, kemarin (18/10). SIRTU/LOMBOK POST

 

MATARAM-Potret Islam Indonesia, khususnya NTB adalah contoh terbaik bagi kehidupan beragama di dunia. Penuh toleransi dan semangat kebersamaan. Praktik baik itu harus disebarkan ke belahan bumi lain agar tercipta kedamaian. Itu akan sangat berarti untuk meluruskan persepsi yang keliru tentang Islam.

Hal itu terungkap dalam pembukaan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar Mesir, di Ballroom Islamic Center NTB, Rabu (18/10).

Wakil Ketua World Organization for al-Azhar Graduates (WOAG) yang juga Mantan Menteri Waqaf Mesir, Prof Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi dalam pidatonya mengungkapkan kekagumannya pada umat Islam di NTB. Karena itu, Ia menyerukan umat Islam dunia mencontoh kehidupan beragama di Bumi Gora.

”Contoh di NTB ini, kami kehilangan di Arab,” ungkapnya dalam bahasa Arab, di hadapan peserta Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar.

Ditegaskannya, Islam bukan potongan-potongan tubuh manusia yang terlempar akibat bom bunuh diri. Islam tidak mengajarkan kehidupan saling membenci, saling menjauhkan. Namun, Islam adalah agama yang mengajarkan toleransi, saling membantu, membangun hidup dan saling memberi kemanfaatan. Serta menghadirkan kedamaian dengan suluruh umat beragama. Seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW saat membangun Kota Madinah.

Hanya saja, ia merasa heran kenapa toleransi di Indonesia dan NTB belum ditularkan ke seluruh dunia. Menurutnya, umat Islam di seluruh dunia merindukan kehidupan umat beragama yang damai dan penuh toleransi seperti di NTB. Karena, yang dibutuhkan umat Islam bukanlah wacana atau apa yang tertulis di buku-buku.

”Namun yang paling dibutuhkan adalah pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” kata Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi yang menerjemahkan pidato Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi pada wartawan.

Pembukaan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar berlangsung meriah. Ratusan santri serta para alumni hadir dalam acara tersebut. Selain melaksanakan konferensi, para peserta juga berebut foto bersama tokoh-tokoh terutama dari Timur Tengah.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia Prof H Qurais Shihab di tempat yang sama mengatakan, Islam adalah agama moderat. Sifat-sifat yang tidak moderat tidak mencerminkan ajaran Islam. Segala bentuk kekerasan, teror, dan acaman sangat jauh dari ajaran Islam.

Dalam konferensi Internasional tersebut, Islam moderat adalah pokok bahasan utama. Kemudian, juga akan menyinggung dampak-dampak dari ekstrimisme. Mengapa ada orang yang dikafirkan, mengapa ada orang yang menyeleweng. Itu semua dibahas dengan tujuan untuk mewujudkan Islam yang moderat berdasarkan nilai-nilai Islam.

Qurais Shihab berharap, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia terus terjaga. Kerja sama harus dibangun dengan semua pihak. Semua pihak harus saling menghormati, perbedaan pendapat harus dihargai.

Khusus Islam di NTB, ia menilai dari apa yang didengar selama ini, praktik Islam di NTB merupakan yang terbaik. Diharapkan, contoh Islam di NTB bisa ditunjukkan ke dunia tentang potret Islam yang benar. ”Keraja sama antar semua pihak, antaragama, antarsuku,” katanya.

Kalaupun ada kelompok radikal di NTB, menurut Qurais Shihab jumlah meraka sangat sedikit. Tidak dibiarkan berkembang sehingga merusak praktik baik yang selama ini terbangun.

Sementara itu, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi menegaskan, Islam di NTB bukanlah sekedar wacana atau teori di atas kertas. Tapi juga diterapkan dalam kehidupan nyata. Seperti pengembangan pariwisata halal yang tengah digaungkan. Dengan wisata halal atau muslim friendly tourism.

NTB menunjukkan, ada segmen dalam Islam yang dapat dikembangkan untuk menunjang perekonomian masyarakat.

”Itu menunjukkan ajaran Islam itu membawa kebaikan di dalam tataran dunia nyata,” katanya.

Wisata halal tidak hanya dapat dinikmati umat muslim. Tapi seluruh masyarakat dunia. Baik yang beragama Hindu, Budha, Kristen dan umat lainnya. Mereka dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan pariwisata itu.

”Ini adalah contoh bahwa Islam itu rahmatanlilalamiin,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Dr Muchlis menyebutkan, konferensi dan Multaqa tersebut berlangsung selama tiga hari. Dari tanggal 18 hingga 20 Oktober 2017. Selama kegiatan tersebut akan dibahas tiga isu utama yang sedang dihadapi masyarakat muslim dunia.

Pertama, peserta akan membahas batasan antara keislaman dan kekufuran. Kedua, tentang fatwa-fatwa yamg semakin tidak memiliki pedoman. Apalagi di era informasi dan teknologi saat ini. Sehingga, fatwa yang beredar di media sosial saat ini menimbulkan kekacauan penafsiran dan membingungkan umat. Isu yang ketiga adalah metode dakwah kontemporer.

Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia saat ini dipimpin Prof Dr M Quraish Shihab, dibantu wakilnya TGB HM Zainul Majdi dan Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo, dan Sekjen Dr Muchlis M. Hanafi.

OIAA Cabang Indonesia merupakan salah satu cabang resmi dari the World Organization for al-Azhar Graduates (WOAG) di Kairo, Mesir. Kegiatan besar OIAA Indonesia di antaranya menjadi perpanjangan tangan Al-Azhar dalam menyebarkan ajaran Islam yang moderat di Indonesia